Artikel

Waspada Penyakit di Musim Penghujan : Demam Berdarah

04/11/2025 12:21:16 WIB

Tim Website Dinkes

Siklus Hidup Nyamuk Aedes | Nyamuk | CDC
Nyamuk Aedes Aegypti (ft. CDC)

Demam berdarah adalah penyakit infeksi yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes. Kota Yogyakarta merupakan daerah endemis DBD. Setiap tahun masih ditemukan kasus DBD. Sampai bulan Oktober 2025, di Kota Yogyakarta ada 249 kasus. Jika dibandingkan dengan tahun 2024 data tersebut hampir sama. Kasus DBD di Kota Yogyakarta harus  menjadi perhatian kita semua.

Saat memasuki musim hujan, suhu udara yang turun menyebabkan lingkungan menjadi lebih lembab. Genangan air pun terbentuk di mana-mana akibat hujan. Kondisi ini yang menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes Aegypti untuk berkembang biak. Akibatnya, penularan DBD pun lebih mudah terjadi di musim ini. 

Upaya yang dapat dilakukan masyarakat untuk mencegah DBD 

  1. Memperkuat pelaksanaan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) dengan melibatkan segenap anggota keluarga untuk berperan sebagai Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di rumah masing-masing serta tetap melaksanakan PSN 3M Plus di lingkungan rumah, perkantoran, tempat kerja, sekolah dan Tempat-Tempat Umum (TTU).
  2. PSN 3M Plus adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan melakukan 3 M Plus yaitu kegiatan :
  3. 3M: Menguras, Menutup tempat penampungan air dan Memanfaatkan /mendaur ulang barang bekas yang dapat menjadi tempat penampungan air, dan 
  4. Plus mencegah gigitan nyamuk dengan:
  5. memasang kasa nyamuk pada ventilasi rumah, 
  6. menggunakan cairan anti nyamuk oles atau semprot, 
  7. memberantas jentik nyamuk dengan larvasida di genangan air 
  8. Ikanisasi (memlihara ikan)
  9. menanam tanaman pengusir nyamuk (seperti lavender, serai wangi dan geranium) 
  10. abatisasi/ menaburkan abate pada tempat penampungan air yang sulit dikuras,
  11.  program kranisasi/ mengganti bak mandi dengan ember. 
  12. tidak menggantung baju terlalu lama
  13. mengontrol minuman hewan piaraan agar tdk dijadikan sarang nyamuk 
  14. Mengaktifkan Community Deal di berbagai tingkat baik RT/RW, Kelurahan, Kemantren maupun tingkat Kota Yogyakarta.

Dimana saja tempat-tempat yang disukai nyamuk untuk bertelur?

Setiap ada genangan air seperti bak mandi, tempat penampungan air/tempayan, tempat minum hewan piaraan , bagian bawah dispenser, kulkas, pot bunga , plastic/mainan anak yg terbuka yg terisi air , kolam yg tidak ada ikannya dll sehingga sangat perlu adanya kegiatan yang memantau tempat-tempat tersebut, agar tidak ada genangan yang menjadi tempat nyamuk bertelur.

Bagaimana dengan fogging ? apakah juga sebagai cara pengendalian  DBD?

Fogging memang salah satu cara, tapi cara terakhir dan dilakukan sesuai dengan SOP/ aturan yang berlaku. Fogging dilakukan saat ada terbukti di wilayah itu ada penularan. Ada tidaknya penularan dilihat dari Penyelidikan Epidemiologi di wilayah tersebut. Apakah ada orang lain di sekitar penderita yang mengalami gejala yang sama dan dilihat  Angka Bebas Jentiknya /ABJ. 

jika terjadi penularan dan ABJnya kurang dari 95% dan diikuti kegiatan PSN, maka dilakukan fogging. 

Jadi fogging tidak sembarang dilakukan, mengingat efek  samping fogging . setidaknya ada 3 yang diperhatikan 

  • Menggunakan zat  kimia , jika berlebihan akan mengganggu Kesehatan
  • Bisa menimbulkan resistensi, lama-lama nyamuknya menjadi kebal
  • hanya nyamuk dewasa yang mati, jika jentik msh ada, akan berkembang menjadi nyamuk
  • Beaya yang digunakan

Bagaimana tentang inovasi menggunakan nyamuk berwolbachia?

Inovasi ini bekerja sama dengan WMP , Pusat Kedokteran Tropis UGM . dengan metode nyamuk Aides Aegipti diberi bakteri Wolbachia, yg bisa menekan virus dengue di tubuh nyamuk . Hasil monitoring frekuensi nyamuk Wolbachia pada tahun 2024 di Kota Yogyakarta sejumlah 87,2%. (Anandi)