Berita
Kota Yogyakarta menerapkan Sistem Kewaspadaan Dini Penyakit Menular
Dilihat 2309 kali 07/10/2025 12:47:39 WIB
Tim Website Dinkes

Yogyakarta merupakan salah satu dari 3 destinasi wisata dengan kunjungan tertinggi di Indonesia bersama Bali dan Labuhan Bajo NTT.
Menurut data dari Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta kunjungan wisatawan ke Kota Yogyakarta tercatat sebanyak 10.939.210 orang pada tahun 2024 dengan pengunjung manca negara sebanyak 355.333 orang dan pengunjung nusantara sebanyak 10.583.877 orang. Diantara pengunjung tersebut sebanyak 4.695.574 orang mengunjungi Malioboro.


Tingginya mobilitas pengunjung ke Kota Yogyakarta dari berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri menjadi faktor risiko terjadinya penularan penyakit. Seorang pengunjung dengan penyakit menular akan berpotensi menularkan secara langsung atau tidak langsung kepada orang-orang yang berada di Kota Yogyakarta.

Kerawanan penularan penyakit tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mencegah secara dini potensi penularan dari berbagai penyakit menular. Melalui Dinas Kesehatan, Pemerintah Kota Yogyakarta menerapkan Sistem Kewaspadan Dini dan Respons (SKDR) penyakit menular. Sebanyak 24 jenis penyakit menular berpotensi menyebabkan kejadian luar biasa (Potensial KLB) menjadi fokus kewaspadaan. Berikut penjelasan Ketua Tim Kerja surveilans PD SIK Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Solikhin Dwi R tentang SKDR merujuk dari kebijakan nasional kewaspadaan dini penyakit dan sumber lainnya.

Apakah SKDR?
SKDR berfungsi deteksi dini ancaman penyakit menular yang berpotensi KLB atau wabah di Kota Yogyakarta. Deteksi penyakit menular dilakukan berdasarkan pendekatan gejala (tanda) pada kasus suspek (tersangka). Gejala pada kasus suspek diperoleh melalui perekaman yang dituangkan dalam bentuk diagnosis ICD-X terhadap pasien pada 18 puskesmas di Kota Yogyakarta dan rumah sakit. Sebanyak 24 jenis penyakit menular yang berpotensi KLB dicermati dan diamati kemunculannya melalui diagnosis ICD-X oleh tenaga medis di seluruh puskesmas.

24 jenis penyakit apa saja yang berpotensi KLB?
Dua puluh empat penyakit potensial KLB diantaranya Adalah ;
Campak, Difteri, Acute Flacyd Paralysis (AFP) atau (Lumpuh Layuh Mendadak), Pertusis/Batuk Rejan, Tetanus Pada Bayi Baru Lahir/Tetanus Neonatorum (TN), Tetanus , COVID-19, ILI (Influenza Like Illnes atau Penyakit Serupa Influenza), Pneumonia, Meningitis, Penyakit Kaki, Tangan dan Mulut Pada Manusia (HFMD), Diare Akut, Kolera, Diare Berdarah (Disentri), Demam Tifoid (Tipes), Sindrom Jaundice Akut, Malaria, Demam Dengue, Leptospirosis, Rabies (Gigitan Hewan Penular Rabies), Antraks, Chikungunya, Flu Burung dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Dari mana Sumber data SKDR?
Sumber data SKDR adalah kunjungan pasien di puskesmas dan rumah sakit dalam kurun satu minggu (mingguan).
Bagaimana mekanisme Kewaspadaan dilakukan?
Temuan suspek (salah satu) dari 24 penyakit potensial KLB dilaporkan (entry) dalam diagnosis ICD-X melalui aplikasi SKDR Kementerian Kesehatan. Berikutnya aplikasi SKDR secara otomatis akan menampilkan alert atau sinyal peringatan dini adanya peningkatan kasus penyakit, jika jumlah kasus dilaporkan (diagnosis ICD-X) melebihi nilai ambang batas di Kota Yogyakarta.
Alert atau sinyal peringatan dini yang muncul pada sistem bukan berarti sudah terjadi KLB tetapi merupakan pra-KLB yang mengharuskan petugas untuk melakukan respon cepat agar tidak terjadi KLB.
Munculnya sinyal peringatan dini (alert), ditindaklanjuti oleh faskes untuk kewaspadaan dengan melakukan ;
- Verifikasi alert, bersama dengan tenaga medis melakukan verifikasi untuk memastikan kebenaran diagnosis dan tatalaksana perawatannya
- Melakukan respons lanjutan dengan melakukan penyelidikan epidemiologi (PE), pengendalian faktor risiko, pencegahan penularan bersama pihak-pihak terkait dan tatalaksana pencegahan lainnya.
Melalui sistem kewaspadaan dini diharapkan potensi penularan penyakit dan dan terjadinya KLB di Kota Yogyakarta dapat dicegah dan dikendalikan. (shol)

-
Dinkes Membuka Bimbingan Teknis Penyuluhan Keamanan Pangan140x tampil12/05/2026
-
Kota Yogyakarta masuk Nominasi Kota Percontohan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Nasional171x tampil12/05/2026
-
Semiloka Nasional Adinkes 2026 di Mataram, Dinkes Kota Yogyakarta Memperoleh Special Appreciation225x tampil06/05/2026
-
Pelantikan Pejabat di Lingkungan Dinas Kesehatan586x tampil29/04/2026
-
Memperingati Hari Malaria Sedunia 2026, Kota Yogyakarta Tetap Waspadai Kasus Impor509x tampil29/04/2026
Last Updated 3 min ago
Last Updated 3 min ago
Last Updated 3 min ago
Last Updated 3 min ago
Last Updated 3 min ago
-
Buletin dan Tren Mingguan W2 SKDR Puskesmas dan RS Minggu Ke-18 Tahun 2026, 3 - 9 Mei 202691x tampil13/05/2026
-
Buletin dan Tren Mingguan W2 SKDR Puskesmas dan RS Minggu Ke-17 Tahun 2026, 26 April - 2 Mei 2026141x tampil08/05/2026
-
Buletin dan Tren Mingguan W2 SKDR Puskesmas dan RS Minggu Ke-16 Tahun 2026, 19 - 25 April 2026179x tampil30/04/2026
-
Buletin dan Tren Mingguan W2 SKDR Puskesmas dan RS Minggu Ke-15 Tahun 2026, 12 - 18 April 2026203x tampil24/04/2026
-
Buletin dan Tren Mingguan W2 SKDR Puskesmas dan RS Minggu Ke-14 Tahun 2026, 5 - 11 April 2026217x tampil17/04/2026
- HARI INI 4.161
- BULAN INI 88.055
- TAHUN INI 666.998
- SEMINGGU TERAKHIR 44.830
- SEBULAN TERAKHIR 159.389
- SETAHUN TERAKHIR 1.811.132
- TOTAL PENGUNJUNG 10.413.719