Berita

Belum Ada Kasus Penyakit Nipah di Indonesia, Namun Tetap Waspada

Dilihat 4662 kali   05/02/2026 15:02:44 WIB

Tim Website Dinkes

Nipah merupakan jenis penyakit zoonosis atau penyakit yang berasal dari hewan. Nipah ditularkan dari hewan pembawa atau reservoir utama kelelawar buah (Pteropus sp.) atau codot (nama Jawa) melalui air liur maupun air kencing. Penyakit Nipah yang disebabkan oleh virus nipah pertama kali ditemukan di kampung Sungai Nipah, Malaysia pada tahun 1998-1999. Saat itu Nipah menjangkit di peternakan babi akibat penularan dari kelelawar buah.

 

img_20260205151517_image.png
Ilustrasi kelelawar buah hewan noctural dan mencari makan di malam hari (ft. Idntimes.com)

Nipah dapat menular dari hewan ke hewan, hewan ke manusia dan dari manusia ke manusia. Nipah memiliki fatalitas tinggi sebesar 40-70% dengan menyerang otak (ensepalitis), menurunkan kesadaran dan kejang. Beberapa negara selain Malaysia yang pernah melaporkan kasus Nipah diantaranya India, Bangladesh dan Filipina. Pada 26 Januari 2026, India melaporkan 2 kasus konfirmasi Nipah tanpa kematian di Negara Bagian West Bengal dan sampai saat ini tidak ditemukan penambahan kasus.

img_20251205111019_image.png
img_20260205151858_image.png
Kewaspadaan di pintu masuk negara (bandara) oleh Dit SKK (ft. tangerangonline.id)

“Di Indonesia, belum ditemukan kasus Nipah pada manusia”, jelas Solikhin Dwi R, MPH., Ketua Tim Kerja Surveilans PD SIK Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. 

“Namun demikian tetap waspada terhadap faktor risiko penularan dengan memperhatikan mobilitas manusia lintas negara terutama dari negara yang mengalami kejadian luar biasa dan hasil penelitian di Indonesia yang menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada reservoir alami kelelawar buah (Pteropus sp.)”, papar Solikhin DR.

 

img_20260205151745_image.png

Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta melakukan meningkatkan kewaspadaan melalui pemantauan dan verifikasi tren kasus suspek meningitis/ensefalitis, Influenza Like Illness (ILI), ISPA, dan pneumonia. Pemantauan dilakukan melalui pelaporan surveilans berbasis indikator (indicator based surveillance).

“Dalam satu minggu ini dari 29 januari sampai 5 Februari 2026 tidak terjadi lonjakan kunjungan pasien ISPS, Pneumonia dan ILI”, jelas Solikhin DR berdasarkan data pemantauan harian penyakit pernafasan yang dimiliki Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta.

img_20221012150940_image.png

Diharapkan masyarakat tetap waspada walaupun belum ada kasus Nipah di Yogyakarta. Masyarakat dapat berperan dalam mencegah penyakit virus Nipah secara aktif dengan :

  1. Tidak mengonsumsi air nira/aren (di Yogya air sadapan bunga kelapa bahan gula merah) langsung setelah diambil dari penampung di pohonnya karena kelelawar dapat mengontaminasi sadapan aren/nira atau kelapa pada malam hari oleh karenanya perlu dimasak sebelum dikonsumsi;
  2. Cuci dan kupas buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi ;
  3. Buang buah yang ada tanda gigitan kelelawar;
  4. Konsumsi daging ternak secara matang

Jika telah terjadi infeksi virus Nipah

  1. Tidak mengonsumsi hewan yang terinfeksi virus Nipah;
  2. Menerapkan protokol kesehatan seperti cuci tangan pakai sabun atau menggunakan hand sanitizer, menerapkan etika batuk dan bersin, serta memakai masker apabila mengalami gejala, termasuk kelompok rentan;
  3. Hindari kontak dengan hewan ternak (seperti babi dan kuda) yang kemungkinan terinfeksi virus Nipah, apabila terpaksa harus melakukan kontak, maka menggunakan APD;
  4. Bagi tenaga kesehatan dan keluarga yang merawat serta petugas laboratorium yang mengelola spesimen pasien terinfeksi, menerapkan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dengan benar.

(shol, dari berbagai sumber)

img_20241203104206_image.png