Berita
Pemberantasan Tuberkulosis sebagai Quick Win dan Empat Pemahaman untuk Kewaspadaan
Dilihat 803 kali 11/02/2026 13:28:43 WIB
Tim Website Dinkes
Umbulharjo. Saat ini Kasus Tuberkulosis atau TB di Indonesia menduduki peringkat kedua terbanyak setelah India. Kondisi demikian menjadi perhatian serius presiden Prabowo dan memasukkan penanggulangan Tuberkulosis dalam program utama atau quick win dalam periode kepemimpinannya. Senin (2/2/2026) presiden mamanggil Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K) untuk diminta informasi terkait pemberantasan Tuberkulosis. Perhatian tersebut selain karena jumlah kasusnya yang tinggi, Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang memiliki risiko kematian tinggi serta implikasi pembiayaan yang cukup besar, dengan semakin besar kasus yang terjadi.

Di Kota Yogyakarta Tuberkulosis juga menjadi penyakit menular prioritas pencegahan dan pengendalian yang diselenggarakan Dinas Kesehatan.
“Tuberkulosis masih ditemukan di Kota Yogyakarta diikuti dengan kegagalan pengobatan dan Loss to Follow Up TB lebih dari 7 persen karena faktor ketidakpatuhan dan kedisplinan pasien. Hal demikian berpotensi meningkatkan risiko penularan”, jelas Penanggungjawab P2P Tuberkulosis Setyogati Candra Dewi, SKM., MKM., Loss to Follow Up (LTFU) TB adalah kondisi pasien tuberkulosis yang berhenti berobat selama 2 bulan berturut-turut atau lebih, atau tidak pernah memulai pengobatan setelah terdiagnosis.


“Dalam pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian penyakit menular membutuhkan kesadaran, dukungan dan keterlibatan masyarakat yang menjadi kunci penting keberhasilan program termasuk kewaspadaan penyakit”, tambah Solikhin Dwi R., MPH., Epidemiolog Kesehatan Dinas Kesehatan.

Empat Pemahaman untuk Membantu Kewaspadaan Terhadap Tuberkulosis
Seberapa bahaya penyakit Tuberculosis bagi penderita?
Tuberculosis sangat berbahaya jika tidak diobati dan dapat menyebabkan kematian. Bakteri akan merusak jaringan paru secara perlahan. Penderita mengalami batuk darah berat, sesak napas berat, penurunan berat badan secara drastis dan infeksi dapat menyebar ke organ lain (otak, tulang, ginjal). Pada masa sebelum ditemukan antibiotik Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit yang menakutkan sebab banyak kematian karenanya.
Apa penyebab penyakit Tuberculosis (TB)?
Tuberculosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Jika orang terinfeksi, bakteri akan bertahan dan berkembang biak di paru-paru dan dapat menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lain seperti ginjal, tulang belakang dan otak.

Bagaimana orang bisa tertular Tuberculosis (TB)?
Tuberculosis disebarkan dan ditularkan melalui percikan ludah (droplet) dari penderita Tuberculosis aktif saat berinteraksi (berbicara), batuk, atau bersin dan dihirup oleh orang di sekitarnya. Partikel kecil berukuran <5 mikrometer dapat terhirup ke dalam paru-paru.
Perlu diketahui saat batuk akan mengeluarkan sekitar 3.000 droplet, dan saat bersin sekitar 40.000 - 100.000 droplet. Penderita Tuberkulosis akan menyebarkan ribuan bakteri yang terbawa dalam droplet saat batuk dan bersin yang bisa bertahan cukup lama di udara lembab dan kurang sinar matahari.
Supaya tidak tertular bagaimana cara mencegahnya?
- Diberikan vaksinasi BCG saat bayi untuk mencegah komplikasi Tuberkulosis berat.
- Memperbaiki sirkulasi udara dan akses sinar matahari di rumah ; buka jendela (ventilasi) setiap pagi agar rumah mendapat sinar matahari dan udara segar dapat mengurangi bakteri TBC yang bertahan di udara.
- Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan mengkonsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, olah raga rutin dan berhenti merokok akan meningkatkan tubuh.
- Menerapkan etika batuk dan bersin dengan penutup mulut menggunakan tisu atau siku saat batuk/bersin dan tidak meludah sembarangan.
- Memakai masker terutama di lingkungan berisiko tinggi atau saat berdekatan dengan pasien atau penderita Tuberkulosis aktif.
- Melakukan Pengobatan Tuntas, bagi penderita Tuberkulosis wajib menyelesaikan pengobatan (selama 6 bulan atau lebih) untuk memutus rantai penularan dan mencegah resistensi obat.
- Melakukan deteksi dini dengan skrining atau periksa kesehatan jika tinggal serumah dengan pasien Tuberkulosis.
(shol, dari berbagai sumber)

-
Evaluasi DASI PENSI DIKOTA, Aplikasi Pengingat Kunjungan Rutin Pasien Hipertensi dan DM233x tampil25/05/2026
-
Pemetaan Penyakit Infeksi Emerging (PIE) Kota Yogyakarta175x tampil22/05/2026
-
Optimalisasi SIMONA dan SIPNAP untuk Pemantauan Interaksi Obat221x tampil20/05/2026
-
Dinkes Membuka Bimbingan Teknis Penyuluhan Keamanan Pangan361x tampil12/05/2026
-
Kota Yogyakarta masuk Nominasi Kota Percontohan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Nasional341x tampil12/05/2026
Last Updated 3 min ago
Last Updated 3 min ago
Last Updated 3 min ago
Last Updated 3 min ago
Last Updated 3 min ago
-
Buletin dan Tren Mingguan W2 SKDR Puskesmas dan RS Minggu Ke-19 Tahun 2026, 10 - 16 Mei 202665x tampil26/05/2026
-
Buletin dan Tren Mingguan W2 SKDR Puskesmas dan RS Minggu Ke-19 Tahun 2026, 10 - 16 Mei 202660x tampil26/05/2026
-
Buletin dan Tren Mingguan W2 SKDR Puskesmas dan RS Minggu Ke-18 Tahun 2026, 3 - 9 Mei 2026231x tampil13/05/2026
-
Buletin dan Tren Mingguan W2 SKDR Puskesmas dan RS Minggu Ke-17 Tahun 2026, 26 April - 2 Mei 2026331x tampil08/05/2026
-
Buletin dan Tren Mingguan W2 SKDR Puskesmas dan RS Minggu Ke-16 Tahun 2026, 19 - 25 April 2026301x tampil30/04/2026
- HARI INI 3.630
- BULAN INI 165.081
- TAHUN INI 744.256
- SEMINGGU TERAKHIR 28.085
- SEBULAN TERAKHIR 162.028
- SETAHUN TERAKHIR 1.830.652
- TOTAL PENGUNJUNG 10.490.977