Berita

Mengenal Penyakit Pes (Plague) dan Situasi di Indonesia

Dilihat 206 kali   29/10/2026 15:20:00 WIB

Tim Website Dinkes

img_20261029152321_image.png

Umbulharjo. Awal Oktober 2026 dunia dikagetkan dengan munculnya penyakit pes peumonik yang menjangkit seorang pegawai laboratorium dan meninggal di Rusia. Sontak kejadian tersebut memicu kekhawatiran terjadinya penularan global termasuk di Indonesia. Namun kekhawatiran tersebut ditepis setelah WHO menerbitkan laporan situasi yang menyatakan bahwa tidak ditemukan bukti penularan berkelanjutan terkait kejadian tersebut pada 10 Oktober 2026. Secara epidemiologi peristiwa di Rusia adalah kejadian pneumonia berat dengan dugaan awal pes pneumonik yang masih memerlukan klarifikasi etiologi, bukan wabah pes yang telah terkonfirmasi.

Apa penyakit Pes (Plague)?

Pes (plague) adalah penyakit infeksi zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang dapat menular dari hewan ke manusia, terutama melalui gigitan kutu (pinjal) yang terinfeksi sebagai vektor atau reservoir. pada pes pneumonik (pneumonic plague) atau infeksi berat oleh bakteri Yersinia pestis pada paru-paru, penularan antarmanusia dapat terjadi melalui droplet pernapasan. 

img_20251205111019_image.png

Bagaimana gejala penyakit pes?

  • Gejala umum : demam tinggi mendadak, menggigil, sakit kepala, nyeri otot dan badan terasa pegal, tubuh sangat lemah, mual dan muntah.
  • Pada kondisi berat, dapat terjadi kebingungan, syok, perdarahan, atau gangguan organ.

Berapa lama masa inkubasi pes?

Masa inkubasi atau waktu antara paparan bakteri hingga munculnya gejala sekitar 1–7 hari (untuk Pes pneumonik dapat terjadi sekitar 1 hari setelah paparan)

img_20261029152536_image.png

Kapan harus dicurigai sebagai pes?

Dari sisi surveilans epidemiologi, penyakit pes perlu dipertimbangkan jika seseorang mengalami demam akut disertai salah satu kondisi berikut:

  • Pembengkakan kelenjar getah bening yang nyeri, terutama setelah kemungkinan paparan pinjal atau hewan pengerat.
  • Pneumonia berat yang berkembang cepat, terutama setelah kontak dengan penderita yang dicurigai mengalami pes pneumonik.
  • Demam disertai tanda sepsis atau perdarahan, dengan riwayat paparan yang mendukung.

Bagaimana situasi penyakit pes di Indonesia?

Sejak tahun 2007  di Indonesia tidak ditemukan penyakit pes pada manusia. Wabah pes terakhir pada manusia yang tercatat terjadi pada 2007 di Kabupaten Pasuruan.

img_20221012150940_image.png

Apakah sumber penularan pes masih ada?

Dari perspektif epidemiologi, tidak ditemukannya  kasus pes pada manusia tidak berarti sumber penularan sudah tidak ada. Sebagai catatan bakteri Yersinia pestis dapat bertahan dalam siklus alami yang dalam hewan pengerat (tikus) dan kutu (pinjal).

Bagaimana mencegah penularan penyakit pes?

  • Pencegahan dan kewaspadaan penularan dari luar Indonesia dilakukan surveilans epidemiologi di pintu masuk negara oleh BKK Kemenkes RI
  • Surveilans vector dan reservoir (BB Labkesmas Kemenkes RI)
  • Surveilans epidemiologi dilakukan di wilayah kabupaten/kota melalui Dinas Kesehatan dan puskesmas
  • Deteksi dini pada manusia yang memiliki gejala yang sesuai, riwayat kontak dengan penderita, riwayat perjalanan dari daerah endemis
  • Melakukan pola hidup sehat dan bersih

Sebagai langkah kewaspadaan, perlu dipahami bahwa tidak adanya kasus penyakit pes pada manusia tidak membuktikan bahwa bakteri penyebab pes telah hilang dari lingkungan maka membudayakan pola hidup sehat dan bersih serta menghindari risiko penularan merupakan langkah awal mencegah penularan penyakit. (shol : dari berbagai sumber)

img_20241203104206_image.png