Berita

Sosialisasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan CKG di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST)

Dilihat 1064 kali   22/10/2025 13:39:00 WIB

Tim Website Dinkes

img_20251022134249_image.png
Peserta Sosialisasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Cek Kesehatan  Gratis (CKG) di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST)

Umbulharjo. Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta bersama Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) menggelar kegiatan Cek Kesehatan Gratis dan Sosialisasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Di Auditorium Lt 4, Gedung Pusat UST Jl. Batikan Umbulharjo Kota Yogyakarta pada Selasa, 21 Oktober 2025. Kegiatan dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan mahasiswa, dosen dan staf UST serta Pencegahan Merokok di kalangan mahasiswa.

Hadir mewakili Dinas Kesehatan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Waryono, A.Md.Nes., S.I.P., M.Kes, drg. Arumi Wulansari, MPH Kepala Seksi Promosi Kesehatan, dr. Iva Kusdyarini Kepala Seksi P2PTM dan pihak Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) diwakili kepala Biro Akademi Dr. Siti Mariah, M.Pd, M.CE.

 

img_20251022134327_image.png
Meja pengukuran berat badan, tinggi badan dan linkar perut

Pada sambutannya Kepala Biro Akademik UST berharap setiap mahasiswa UST dapat mengetahui dan memahami bahaya merokok bagi kesehatan dirinya dan segera berhenti dikala muda.

“Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa memiliki program magang ke Jepang. Pada tiga tahun terakhir secara rutin telah mengirimkan mahasiswa dan salah satu persyaratan wajib yang harus dipenuhi adalah tidak merokok”, jelas Dr. Siti Mariah bahwa tidak merokok merupakan syarat magang mahasiswa di Jepang dan memberikan apresiasi terhadap kegiatan sosialisasi dan cek kesehatan gratis Kerjasama antara Dinas Kesehatan dan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST).

img_20221012150940_image.png
img_20251022134350_image.png
Meja anamnese

Sebanyak 200 mahasiswa, dosen dan staf UST hadir dan mengikuti cek pemeriksaan gratis dan edukasi kesehatan oleh dokter ahli. Edukasi tentang Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) yang disebabkan karena perilaku merokok disampaikan dengan kemasan cair dan populer oleh dr. Ardorisye Saptaty Fornia (Popy), Sp.P, M.Kes, FISR dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia sebagai narasumber.

img_20250922103223_image.png

Dr. Popy menjelaskan bahwa Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) tidak langsung dirasakan saat muda namun akan datang dan dirasakan saat memasuki usia produktif hingga lansia. Penyakit PPOK merupakan penyakit menahun sehingga tidak disadari oleh kebanyakan orang.

“Tanyakan pada diri sendiri kapan bisa berhenti merokok agar tidak terjadi PPOK. Lakukan secara konsisten dalam berhenti merokok. Dan apabila ada keluarga yang merokok jadilah garda terdepan dalam mencegah dalam keluarga termasuk jika orang tua yang merokok. Lakukan secara konsisten dengan hati yang lembut”, jelas dr. Popy.

 

img_20251022134422_image.png
Meja pemeriksaan tekanan darah

Terkait Cek Kesehatan Gratis Kabid Pelayanan Kesehatan menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya untuk memastikan mahasiswa dalam kondisi sehat dan melakukan pencegahan penyakit sedini mungkin. Deteksi dini dilakukan untuk menentukan tatalaksana jika ditemukan penyakit ataupun faktor risiko untuk mencegah perburukan. (arumi/shol)

img_20241203104206_image.png