Berita

Pencegahan Dini dan Kewaspadaan Keracunan Pangan Program MBG

Dilihat 24002 kali   27/10/2025 09:27:48 WIB

Tim Website Dinkes

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Salah satu tujuan MBG disebut untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak sekolah, ibu hamil, dan penerima manfaat lainnya, sebagai bagian dari investasi pembangunan sumber daya manusia unggul.

Program ini telah dilaksanakan sejak Januari 2025 dengan 3 juta sasaran. Di Kota Yogyakarta MBG pertama dilaksanakan pada 17 Februari 2025 di SMK N 4 Yogyakarta salah satu sekolah yang terpilih sebagai pilot project bersama SMPN 10 dan SMKN 6.

 

img_20251027094707_image.png
Siswa SD di Yogyakarta makan bersama MBG dari SPPG BGN (ft. jogja.tribunnews.com)

Seiring dengan pelaksanaan program MBG, kejadian keracunan makanan terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI menyebutkan pada 5 Oktober 2025 telah terjadi keracunan pada pangan program MBG sebanyak 119 kejadian di 25 provinsi (88 kabupaten/kota), dengan jumlah kasus sebanyak 11.660. Kejadian keracunan pangan di Kota Yogyakarta pada program MBG terjadi sekali dari dari 1 SPPG di wilayah Wirobrajan. 

img_20251105091819_image.png

Banyak faktor yang penyebab keracunan pangan, namun umumnya berkaitan dengan penerapan prinsip hygiene dan sanitasi di unit penyedia makan atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mitra BGN dalam penyediaan MBG di sekolah. Ahli mikrobiologi FK-KMK UGM Dr. Raden Ludhang Pradipta Rizki, M.Biotech., Sp.MK pada kegiatan Koordinasi Kajian KLB MBG : Investigasi KLB dan Interpretasi Hasil Pemeriksaan Laboratorium untuk Kabupaten/Kota di Dinas Kesehatan Provinsi DIY pada Selasa 21 Oktober 2025 menjelaskan hal tersebut, bahwa untuk mengurangi risiko keracunan pangan upaya paling minimal adalah dengan menerapkan higiene dan sanitasi dan cuci tangan pada air mengalir.

 

img_20251027095017_image.png
Proses masak di SPPG : Higiene dan Sanitasi menjadi prioritas, penjamah makanan menggunakan APD (ft. infopublik.id)

Kewaspadaan Keracunan Pangan

Sebagai program unggulan dan strategis pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG) akan berjalan dengan sasaran yang berkembang sesuai dengan proyeksi sasarannya.

“Seiring berjalannya program MBG potensi kejadian keracunan pangan akan selalu ada, maka kewaspadaan dan pencegahan dini perlu dilakukan”, jelas Solikhin Dwi R, MPH Epidemiolog Kesehatan Ahli, Ketua Tim Kerja Surveilans PD SIK Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta.

img_20221012150940_image.png

Memperhatikan hal tersebut atas arahan Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta,  Lintas program Dinas Kesehatan -sebagai tim keamanan pangan pada program MBG (Tim Dinkes)- terdiri dari Timja KLK3O, Seksi Farmakminalkes,  Timja Sertifikasi dan Lisensi Kesehatan dan Timja Surveilans PD SIK, secara simultan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi terjadinya keracunan pangan di Kota Yogyakarta.

 

img_20251027095254_image.png
Proses pemorsian : Higiene dan Sanitasi menjadi prioritas, penjamah makanan menggunakan APD (ft. antaranews.com)

Sesuai dengan ketugasan dalam menjaga keamanan pangan bagi warga Kota Yogyakarta, secara pro aktif Dinas Kesehatan melakukan inisiasi kewaspadaan dan pencegahan dini keracunan makanan pada program MBG.

Pemberian sertifikat Laik Sanitasi Higiene (SLHS), asesmen IKL, visitasi dan supervisi kelaikan dapur, penerapan higiene sanitasi pada setiap tahapan pengolahan pangan dan lingkungan, sertifikasi penjamah makanan dan distribusi menjadi perhatian tim Dinkes dalam rangka keamanan pangan pada program MBG menjadi perhatian Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan.

img_20250922103223_image.png

Mengenal gejala keracunan pangan

Keracunan pangan memiliki gejala spesifik yang berkaitan dengan sistem pencernaan dan umumnya gejala berupa mual, muntah, diare, sakit perut (kram). Gejala tersebut penting untuk diketahui, dikenali dan dipahami oleh penerima manfaat terutama siswa dan staf di sekolah yang menangani progam MBG sehingga jika terjadi keracunan pangan segera dilakukan tatalaksana yang tepat (sesuai kondisi gejala sakitnya).

 

img_20251027095845_image.png
Distribusi MBG : Porsi dalam ‘ompreng’ diterima pihak sekolah dan dibagikan ke siswa (ft. smkn3jogja.sch.id)

Pada kasus keracunan program MBG di beberapa tempat ditemukan siswa dengan gejala sesak nafas dan kejang, gejala yang tidak lazim terjadi pada kasus keracunan pangan. Pada kondisi tersebut, Dr. Raden Ludhang menjelaskan kemungkinan disebabkan oleh faktor psikologis berupa kepanikan atau panic attack karena khawatir dan ketakutan akan mengalami hal yang sama setelah melihat orang lain keracunan. Solusinya adalah sembuhkan kasus pertama keracunan dan menenangkan siswa lain yang terdampak. (shol)

img_20241203104206_image.png