Berita

Penanggulangan Leptospirosis di Kota Yogyakarta

Dilihat 6887 kali   11/07/2025 11:38:33 WIB

Tim Website Dinkes

Pada semester satu tahun 2025 kasus Leptospirosis di Kota Yogyakarta mencapai 18 orang dengan kematian sebanyak 5 orang. Kematian yang disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira tersebut umumnya terjadi di rumah sakit. Pasien atau keluarga pasien tidak mengetahui jika penyakit yang diderita adalah Leptospirosis yang bisa berakibat fatal jika tidak segera diberikan tata laksana secara cepat dan benar.

Pelaksana program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Leptospirosis memberikan keterangan bahwa berdasarkan hasil Penyelidikan Epidemiologi dari 5 orang meninggal, 1 orang yang periksa di puskesmas dan dirujuk ke rumah sakit, selebihnya berobat ke dokter praktek mandiri, klinik dan langsung ke rumah sakit karena gejala berat yang dirasakan.

 

img_20250711123212_image.png
Proses pemasangan jebakan untuk menangkap tikus di LP Wirogunan

Terkait melonjaknya kasus dan angka kematian akibat Leptospirosis, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta melakukan upaya-upaya pengendalian dan pencegahan penularan dengan melibatkan: Tenaga Medis, Programmer Penyakit Zoonosis, Promkes, Surveilans di Dinas Kesehatan, UPT Puskemas dan faskes lainnya.

img_20221011153304_image.png

“Kemunculan gejala klinis Leptospirosis harus bisa ditangkap secepatnya oleh tenaga medis di fasilitas pelayanan kesehatan terutama Puskesmas, dokter praktek mandiri dan klinik untuk diberikan tata laksana yang tepat sehingga infeksi dan dampak lebih lanjut berupa komplikasi yang merusak organ penting dapat dicegah”, jelas dr. Lana Unwanah, MKM Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit PD SIK Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. 

 

img_20250711123235_image.png
Update pengetahuan tatalaksana penyakit Leptospirosis

dr. Endang Sri Rahayu Kasie P2PM Imunisasi menegaskan bahwa dokter di fasilitas kesehatan harus jitu menangkap gejala klinis yang ditemukan dan segera memberikan tata laksana penyakit Leptospirosis supaya tidak terjadi perburukan. 

img_20221012150940_image.png

Memperhatikan hal tersebut Dinas Kesehatan melakukan update bagi pengetahuan dokter puskesmas dan perawat, dokter praktek mandiri, dokter klinik dan perawat, dokter rumah sakit dan perawat pada poli umum dan penyakit dalam dan diskusi dengan mengundang dokter Ahli sebagai narasumber. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa 8 Juli 2025 di UPT RS Pratama Yogyakarta. 

 

img_20250711123304_image.png
Survei reservoir Leptospirosis dengan pengambilan organ tikus

Upaya lain yang dilakukan dalam rangka kewaspadaan adalah melakukan surveilans aktif oleh surveilans kelurahan dan surveilans puskesmas untuk deteksi dini kemunculan kasus leptospirosis dan faktor risiko. Surveilans reservoir dan lingkungan juga dilakukan bersama Labkesmas Yogyakarta, Labkesda untuk memastikan keberadaan Leptospira dalam organ tikus sebagai reservoir (pembawa) Leptospira, pada air dan tanah. Promosi kesehatan dilakukan oleh Dinas kesehatan bersama Puskesmas untuk menumbuhkan kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat serta kewaspadaan terhadap Leptospirosis.

 

img_20250711123320_image.png
Desinfektasi setelah pembedahan tikus

Survei tikus dan lingkungan dilakukan di wilayah Puskesmas Pakualaman dengan lokus di tempat terjadinya kematian akibat leptospirosis. Hasil survei akan menguatkan perlunya lintas sektor untuk bersama-sama menghentikan penyakit Leptospirosis di Kota Yogyakarta, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Nomor 7 Tahun 2022 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis dan Penyakit Infeksius Baru salah satunya zoonosis yang melibatkan lintas sektor. (shol)

img_20241203104206_image.png